26 Agustus 2016

Upaya Pengendalian Penggerek Buah Biji Durian

Seringkali kita dibuat kecewa ketika membeli buah durian yang harganya relatif mahal, begitu dibuka, kita mendapati organisme hidup yang “tidak diundang” ada di dalam buah yang akan kita makan. Organisme apa gerangan?

Berikut ini akan diuraikan apa penyebab adanya serangan hama pada buah durian dan secara garis besar akan disampaikan bagaimana cara pengendaliannya. Salah satu hama utama yang dijumpai petani perkebunan durian yang diusahakan secara luas adalah  penggerek buah dan biji durian. Hama ini dapat menurunkan kualitas buah dan kualitas daging buah yang dapat dikonsumsi sehingga menurunkan keuntungan petani.

Buah yang terserang pada awalnya tidak dapat dibedakan dengan buah yang sehat karena penampakan buah dari luar relatif “mulus”. Kerusakan baru diketahui pada saat mengetahui kehadiran larva penggerek yang keluar dari dalam buah maupun melalui kotoran yang dihasilkan.



Diduga hama ini asalnya dari Malaysia kemudian tersebar ke Indonesia, Thailand, dan daerah bagian timur lainnya. Akibat infestasi hama ini, dapat menurunkan produktivitas kebun (buah menjadi tidak dapat dikonsumsi) sebesar 100%.

Bagaimana upaya mengatasi hama ini? Apabila menilik siklus hidup hama ini, maka kita dapat mengintervensi/memanipulasi lingkungan hidup si hama agar dapat memutus rantai hidup atau meminimalkan kehadirannya.





Hama ini sebenarnya dibedakan menjadi 2 macam yaitu penggerek buah dan penggerek biji durian. Penggerek buah memiliki nama latin Conogethes punctiferalis (Lepidoptera:Pyralidae). Bentuk serangga dewasa menyerupai kupu-kupu atau basa disebut “ngengat” yang berukuran kecil, bentangan sayapnya mencapai 2,3 cm. Ngengat betina biasanya meletakkan telur pada buah durian yang masih muda. Setelah 4 hari, telur tersebut menetas dan larva yang lahir memakan kulut buah muda sampai pada umur tertentu dan masuk ke dalam buah untuk menyerang daging buah. Larva ini berwarna cokelat muda dan sepanjang tubuhnya bintik-bintik cokelat. Stadia pupa dari hama ini berlangsung di permukaan kulit buah dan biasanya larva yang berpupa menutupi tubuhnya dengan kotoran maupun daun-daunan.

Pada hama penggerek biji durian, dapat dibedakan dari warna larva dan perilaku gereknya. Hama ini dikenal dengan nama Hypoperigea leprosticta (Lepidoptera: Noctuidea). Larva berwarna merah muda dan mampu mempenetrasi buah yang muda untuk kemudian melanjutkan siklus hidupnya di dalam biji buah, larva baru akan keluar dari buah untuk berpupa di dalam tanah.

Stadia yang paling merugikan bagi petani adalah larva. Oleh karena itu, pada perkebunan durian upaya memutuskan siklus hidup/pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara:
1. Mencegah peletakkan telur oleh ngengat:
  • Bungkus buah yang masih muda; hal ini mungkin memerlukan teknologi yang acceptable misalnya berupa alat pemasang pembungkus buah yang praktis yang dapat diaplikasikan pada ketinggian.
  • Karena ngengat memiliki ketertarikan pada cahaya, tangkap ngengat dengan menggunakan perangkap cahaya, tangkap ngengat dengan menggunakan perangkap cahaya (black-blue light) untuk mengurangi populasinya di kebun. Atau petani dapat melakukannya dengan memasang obor di pertanaman.
2. Mengurangi populasi larva yang berada di permukaan buah (sebelum mempenetrasi buah) dengan cara "memlihara" semut rangrang.
3. Apabila ingin mengendalikan secara kimawi, pilihan yang dapat digunakan adalah pemanfaatan ekstrak mimba, yang aplikasinya dapat dilakukan dengan cara menginfus tanaman yang terserang.
4. Pada pertanaman perlu dilakukan sanitasi kebun dengan cara mengumpulkan buah-buah yang terserang kemudian dibakar.
5. Mengumpulkan pupa yang ditemukan di serasah daun, kemudian dibakar.
6. Pengendalian dengan memanfaatkan musuh alami.


7. Usahakan menggunakan pupuk organik atau kompos agar kesuburan tanah serta perkembangan organisme yang berguna meningkat.
8. Gunakan pupuk dan kapur di sekitar tanah untuk mengatur pH dan meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman.
9. Dalam hal budidaya tanaman, di beberapa negara produsen durian (Brunei, Malaysia) telah menerapkan sistem interplanting (tumpangsari), yaitu menanam pohon durian bersama-sama dengan tanaman lain. Tanaman yang dianjurkan/sesuai untuk ditumpangsarian dengan durian antara lain: rambutan, lada, pala, dan pisang. Sedangkan tanaman yang sebaiknya dihindari (karena dapat "mengundang" infestasi OPT lebih besar) antara lain: manggis, jeruk, belimbing, nangka, dan cempedak. (Lina Herlina, SP)

0 comments:

Posting Komentar