Prosa ialah
karya sastra yang berbentuk cerita yang bebas, tidak terikat oleh rima, irama,
dan kemerduan bunyi seperti puisi. Bahasa prosa yang digunakan adalah seperti
bahasa sehari-hari. Menurut isinya prosa terdiri atas prosa fiksi dan non
fiksi.
Prosa Fiksi
Prosa Fiksi
ialah prosa yang berupa cerita rekaan dan khayalan pengarangnya. Isi cerita
tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta. Prosa fiksi disebut juga karangan
narasi sugestif/imajinatif. Prosa fiksi berbentuk cerita pendek (cerpen),
novel, dan dongeng.
- Cerpen
Cerpen
adalah cerita rekaan yang pendek dalam arti hanya berisi pengisahan dengan
fokus pada satu konflik saja dengan tokoh-tokoh yang terbatas dan tidak
berkembang. Alur cerita sederhana hanya memaparkan penyelesaian konflik yang
diungkapkan.
- Novel
Novel
berasal dari bahasa Italia, novella yang
berarti barang baru yang kecil. Kemudian kata tersebut menjadi istilah sebuah
karya sastra dalam bentuk prosa. Novel lebih panjang isinya daripada cerpen. Konflik
yang dikisahkannya lebih luas. Para tokoh dan watak tokohpun lebih berkembang
sampai mengalami perubahan nasib. Penggambaran latar lebih detail. Bersamaan
dengan perjalanan waktu terjadi perubahan-perubahan hingga konflik
terselesaikan.
- Dongeng
Dongeng
adalah cerita rekaan yang sama dengan cerpen atau novel. Hanya di dongeng,
cerita yang dikisahkan adalah tentang hal-hal yang tak masuk akal atau tak
mungkin terjadi. Misalnya, orang dapat menjelma menjadi binatang, binatang
dapat berkata-kata, dan sebagainya. Dongeng biasanya menjadi sarana penyampaian
nasihat tentang moral atau bersifat alegoris. Contoh dongeng: Kancil dan Buaya,
Jaka dan Pohon Kacang Ajaib, Eneng dan Kaos Kaki Ajaib, dan lain-lain.
Di dalam prosa
fiksi, terdapat unsur-unsur pembangun yang disebut unsur instrinsik. Yang
termasuk unsur instrinsik tersebut antara lain, yaitu: tema, alur, penokohan,
latar, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa.
- Tema
Tema ialah
inti atau landasan utama pengembangan cerita. Hal yang sedang diungkapkan oleh
pengarang dalam ceritanya. Tema dapt bersumber pada pengalaman pengarang,
pengamatan pada lingkungan, permasalahan kehidupan, dan sebagainya. Misalnya tentang
cinta, kesetiaan, ketakwaan, korupsi, perjuangan mencapai keinginan, perebutan
warisan, dan sebagainya.
- Alur/Plot
Alur
ialah jalan cerita atau cara pengarang bercerita. Alur dapat disebut juga
rangkaian atau tahapan serta pengembangan cerita. Dari mana pengarang memulai
cerita mengembangkan dan mengakhirinya. Alur terdiri atas alur maju, alur
mundur (flash back), alur melingkar,
dan alur campuran. Tahapan-tahapan alur yaitu:
- Pengenalan
- Pengungkapan masalah
- Menuju konflik
- Ketegangan
- Penyelesaian
Adapun
skema alur tersebut adalah sebagai berikut:
- Penokohan
Penokohan
ialah cara pengarang menggambarkan para tokoh di dalam cerita. Penokohan terdiri
atas tokoh cerita, yaitu orang-orang yang terlibat langsung sebagai pemeran
sekaligus penggerak cerita dan orang-orang yang hanya disertakan di dalam
cerita.. dan watak tokoh yaitu penggambaran karakter serta perilaku tokoh-tokoh
cerita. Untuk menimbulkan konflik, biasanya di dalam cerita ada tokoh yang
berperan penting dengan kepribadian yang menyenangkan dan ada tokoh yang
berseberangan tindak-tanduk dan perilakunya dengan tokoh sentral tersebut. Tokoh
utama disebut dengan protagonis dan tokoh lawannya adalah tokoh antagonis.
Cara
pengarang menggambarkan para tokoh cerita ialah dengan secara langsung
dijelaskan nama tokoh beserta gambaran fisik, kepribadian, lingkungan
kehidupan, jalan pikiran, proses berbahasa, dan lain-lain. Dapat juga dengan
cara tidak langsung, yaitu melalui percakapan/dialog, digambarkan oleh tokoh
lainnya, rekasi dari tokoh lain, pengungkapan kebiasaan tokoh, jalan pikiran,
atau tindakan saat menghadapi masalah.
- Latar/Setting
Latar
cerita adalah gambaran tentang waktu, tempat, dan suasana yang digunakan dalam
suatu cerita. Latar merupakan sarana memperkuat serta menghidupkan jalan
cerita.
- Amanat
Amanat
cerita adalah pesan moral atau nasehat yang disampaikan oleh pengarang melalui
cerita yang dikarangnya. Pesan atau nasehat yang disampaiakan oleh pengarang
dengan cara tersurat yankni dijelaskan oleh pengarang langsung atau melalui
dialog tokohnya; dan cara tersirat atau tersembunyi sehingga pembaca baru akan
dapat menangkap pesan setelah membaca keseluruhan isi cerita.
- Sudut Pandang Pengarang
Sudutpandang
pengarang atau point of view ialah
posisi pengarang dalam cerita. Posisi pengarang dalam cerita terbagi menjadi
dua terlibat dalam cerita dan berada di luar cerita.
- Pengarang terlibat di dalam cerita. Terdiri atas pengarang sebagai pemeran utama (orang pertama), isi cerita bagaikan mengisahkan pengalaman pengarang. Selain itu, keterlibatan pengarang dalam cerita dapat memosisikan pengarang hanya pemeran pembantu. Artinya, pengarang bukan tokoh utama atau sntral, namun ia ikut menjadi tokoh, misalnya menceritakan tentang kehidupan orang-orang terdekat pengarang, ayah, ibu, adik, atau sahabat seperti roman sastra berjudul “Ayahku” yang dikarang oleh HAMKA.
- Pengarang berada di luar cerita, terdiri atas pengarang serba tahu. Ia menciptakan tokoh, menjelaskan jalan pikiran tokoh, mengatur dan mereka semua unsur yang ada di dalam cerita. Selain itu, pengarang berada di luar cerita dapat hanya menjadikan pengarang sebagai pengamat atau disebut sudut pandang panoramik. Pengarang menceritakan apa yang dilihatnya, sebatas yang dilihatnya. Ia tidak mengetahui secara bathin tokoh-tokoh cerita. Posisi pengarang seperti ini biasanya terdapat pada cerita narasi yang berupa kisah perjalanan.
- Gaya Bahasa
Gaya
bahasa adalah bagaiman pengarang menguraikan ceritanya. Ada yang menggunakan
bahasa yang lugas, ada yang bercerita dengan bahasa pergaulan atau bahasa
sehari-hari. Ada juga yang bercerita
dengan gaya satire atau sindran halus, menggunakan simbol-simbol, dan
sebagainya. Penggunaan bahasa ini sangat membantu menimbulkan daya tarik dan
penciptaan suasana yang tepat bagi pengembangan tema serta alur cerita. Setiap pengarang
besar biasanya sudah memiliki ciri khas penggunaan bahasa dalam ceritanya.







0 comments:
Posting Komentar