11 Agustus 2016

Ahok dan Risma Bukan Untuk Diadu Melainkan Harus Disebarluaskan


Seiring dengan akan diselenggarakannya Pilkada DKI Jakarta, nampaknya bukan hanya menjadi perbincangan masyarakat lokal di Jakarta saja. Hampir seluruh warga di Indonesia juga ikut heboh dalam membicarakan siapa calon yang pantas untuk memimpin Ibu Kota di periode yang akan datang. Sejauh ini, isu dan berita yang berkembang di tengah akan diselenggarakannya Pilkada DKI, sudah muncul nama calon yang nantinya mungkin akan menggantikan posisi Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Sandiaga Uno adalah salah satu nama calon kandidat yang akan maju pada pilkada DKI nanti atas usungan dari Partai Gerindra yang akan melawan Ahok.
 Ahok yang awalnya maju dengan jalur independent dan telah berhasil mengumpulkan satu juta KTP melalui Teman Ahok, kini telah berpindah ke jalur partai. Partai Golkar, Partai Hanura, dan Partai Nasdem adalah tiga partai yang mengusung Ahok untuk kembali maju dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang. Namun demikian, langkah yang dilakukan Ahok dengan berpindah ke jalur partai seakan menuai banyak kontroversi di kalangan warga DKI terlebih bagi warga DKI yang ikut berpartisipasi dalam mengumpulkan KTP pendukung Ahok. Hingga banyak beredar pernyataan-pernyataan netizen yang menganggap Ahok sebagai pengkhianat Teman Ahok. Bahkan tidak sedikit pula meme yang beredar di dunia maya yang menjelaskan tentang pernyataan kepada Ahok untuk mengembalikan KTP warga DKI yang sudah dikumpulkan untuk mendukung Ahok. Disisi lain, juga masih banyak pendukung Ahok yang tidak peduli dengan jalur apa saja yang dipilih Ahok untuk maju ke Pilkada DKI 2017 yang terpenting adalah bagaimana kepemimpinan Ahok jika terpilih lagi nantinya.
Fenomena Pilgub DKI  tidak hanya sampai disini, tak kalah hebohnya terkait pilkada DKI ini keluar pula nama Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Walikota Surabaya atau yang biasa dipanggil Ibu Risma ini juga telah mencuri sebagian hati warga Jakarta sehingga warga Jakarta berharap Ibu Risma ikut maju dan memenangkan Pilkada DKI Jakarta 2017 nanti. Gaya kepemimpinan Walikota Surabaya ini memang sudah tidak diragukan lagi. Semenjak kemunculannya di televisi yang dengan tegas dan keras memarahi salah satu perusahaan swasta yang pernah mengadakan acara di Taman Kota Surabaya karena telah membuat kerusakan tanaman di Taman Kota tersebut, Ibu Risma ini dipandang sebagai pemimpin yang benar-benar tegas dalam menjalankan kepemimpinannya. Seakan tidak takut dengan siapapun selagi yang dilakukannya itu benar, padahal sosok Walikota Surabaya ini adalah seorang wanita yang justru biasanya dipandang sebagai manusia yang lemah, tapi tidak dengan pemimpin yang satu ini. Tidak hanya itu, Ibu Risma juga merupakan pemimpin yang dekat dengan masyarakatnya. Terbukti dengan sering dilaksanakannya blusukan ke tempat-tempat yang mungkin tidak pernah dijangkau oleh pemimpin-pemimpin lainnya. Sehingga banyak warga yang merasa sangat dekat dengan Walikota satu ini sehingga mudah untuk menyampaikan keluhan ataupun aspirasi. Oleh karena itu, sebagian warga DKI menanggagap Ibu Risma pantas memimpin Ibu Kota Jakarta.
Meskipun demikian, bukan hal yang mudah bagi Ibu Risma untuk meninggalkan Surabaya dan maju ke Pilkada DKI Jakarta, walaupun sebenarnya akan banyak partai yang juga ikut mendukung Ibu Risma maju ke Pilkada tersebut. Karena sebagian besar warga Surabaya tidak rela jika Ibu Risma sampai hati meninggalkan Surabaya. Dan sudah banyak pula Gerakan-gerakan yang dilakukan warga Surabaya guna menolak Ibu Risma untuk tidak meninggalkan Surabaya.
Berdasarkan beberapa fenomena yang terjadi terkait Pilkada DKI Jakarta ini, saya sebagai salah satu lulusan Sarjana Ilmu Politik Universitas Riau, berargumen bahwa sosok pemimpin seperti Gubernur Tjahja Purnama (Ahok) dan Tri Rismaharini ini seharusnya bukan untuk diadu atau disingkirkan satu sama lain. Karena terlepas dari kontroversi kepemimpinannya Ahok selama menjadi Gubernur DKI, Ahok juga sudah banyak membuat perubahan di Jakarta. Memang perubahan yang dilakukan oleh Mantan Bupati Belitung Timur ini banyak menuai ketegangan di kalangan warga DKI namun realitanya menghasilkan Kota Jakarta yang lebih baik meskipun belum seluruhnya seperti pembenahan aliran Sungai dan Pengelolaan tanah pemukiman. Bayangkan jika Walikota Surabaya maju melawan Ahok di ring Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang, kedua sosok pemimpin ini akan beradu memperebutkan kursi Gubernur DKI Jakarta dan nantinya salah satu dari mereka pasti akan ada yang tidak memimpin lagi di daerah mereka. Hal ini justru akan membuat Indonesia seakan kehilangan pemimpin yang tegas dan tidak takut walaupun di bawah tekanan. 

Kita contohkan saja jika Ibu Risma bersedia maju di Pilgub DKI, tentu Beliau akan memundurkan diri dari jabatannya sebagai Walikota Surabaya kemudian akan mengecewakan warga Kota Surabaya. Sesampainya di Pilkada DKI Jakarta ternyata Ibu Risma justru tidak terpilih sebagai Gubernur DKI, maka hal ini tentu akan menjadi berita duka bagi pendukung Ibu Risma yang ada di seluruh Indonesia karena secara otomatis Ibu Risma sudah tidak menjabat sebagai pemimpin kembali. Oleh sebab itu, bukan sepantasnya Gubernur Tjahja Purnama (Ahok) dan Tri Rismaharini ini diadu melainkan harus disebarluaskan dan merata di seluruh wilayah Indonesia.


0 comments:

Posting Komentar