18 Juli 2016

MAKALAH BIROKRASI SEBAGAI INSTRUMEN KEKUASAAN PADA ERA ORDE LAMA



A.  PENGANTAR
Birokrasi pemerintah tidak bisa dilepaskan dari proses dan kegiatan politik, pada setiap gugusan masyarakat yang membentuk suatu tata kepemerintahan tidak bisa dilepaskan dari aspek politik ini.[1] Adapun system politik yang diterapkan selama kurun waktu sejarah pemerintahan di Indonesia, birokrasitetap memegang peran sentral dalam kehidupan masyarakat, baik dalam sentralisasi politik maupun system politik yang demokratis sekalipun.[2] Politik sebagai mana yang kita ketahui bersama terdiri dari orang-orang yang berperilaku dan bertindak politik (consists of people acting politically) yang diorganisasikan secara politik oleh kelompok-kelompok kepentingan dan berusaha mencoba mempengaruhi pemerintah untuk mengambil dan melaksanakan suatu kebijakan dan tindakan yang bisa mengangkat kepentingannya dan menyampingkan kepentingan kelompok lainnya.[3]
Kelompok masyarakat itu mempunyai kepentingan yang diperjuangkan agar pemerintah terpengaruh. Birokrasi pemerintah langsung, ataupun tidak langsung akan selalu berhubungan dengan kelompok-kelompok kepentingan dalam masyarakat.[4] Satu hal yang amat penting ialah memahami mengapa birokrasi itu bisa diterapkan dalam kondisi organisasi tertentu dan apa yang membedakan kondisi tersebut dengan kondisi yang lainnya.[5]

B.  TINJAUAN TEORITIS
Teori politik adalah bahasan dan generalisas dari fenomena yang bersifat politik, maksudnya teori politik adalah bahasan dan renungan atas: [6]
a.    Tujuan dari kekuatan politik
b.    Cara-cara mencapai tujuan
c.    Kemungkinan-kemungkinan dan kebutuhan-kebutuhan yang ditimbulkan oleh situasi politik tertentu
d.   Kewajiban-kewajiban (obligations) yang diakibatkan oleh tujuan politik itu.
Konsep-konsep yang dibahas dalam konsep teori politik mencakup: masyarakat, kelas social, Negara, kekuasaan, kedaulatan, hak dan kewajiban, kemerdekaan, lembaga-lembaga Negara, perubahan social, pembangunan politik, modernisasi, dan lain sebagainya.[7] Kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berfikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yangmempengaruhi.[8] Kekuasaan dilihat sebagai interaksi antara pihak yang mempengaruhi dan dipengaruhi, atau yang satu mempengaruhi dan yang lain mematuhi.
Menurut Macridis, dalam bukunya “Comparative Politics” menguraikan lembaga politik negara dengan unsure-unsurnya sebagai berikut:[9]
1.    Membahas mengenai konstitusi “constitution” atau Undang-undang dasar sebagai suatu lembaga politik negara, Of UUD 1945.
2.    Membahas mengenai lembaga politik negara yang sudah lazim sampai sekarang, eksekutif “the executive”, legislative “the legislative”, dan yudikatif “the judiciary”.
3.    Membahas mengenai lembaga administrasi/birokrasi “administration”.
4.    Membahas mengenai lembaga control politik dan tanggung jawab politik.
Dalam kamus politik tahun 2003, birokrasi di definisikan sebagai: (a) Sistem pemerintahan yang di jalankan oleh pegawai pemerintah karena telah berpegang pada hierarki dan jenjang jabatan. (b) Cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban serta menerut tat aturan yang banyak liku-likunya. (c) Birokrasi sering melupakan tujuan pemerintah ynag sejati, karena mementingkan cara dan bentuk.[10]
Alasan pertama mengapa birokrasi kuat secara politik adalah karena birokrasi secara institusional memiliki sumber-sumber kekuasaan yang sangat besar dibanding institusi lainnya dalam system politik seperti parpol, organisasi massa (ormas), organisasi profesi, LSM, kalangan pengusaha, organisasi keagamaan, asosiasi buruh, dan mahasiswa.[11] Dari sudut pandang penguasa, birokrasi sangat dibutuhkan karena dia merupakan sarana penguas untuk mengimplementasikan kehendak (interest)-nya dalam kehidupan rakyat. Sementara itu dari sudut pandang rakyat, birokrasi juga sangat dibutuhkan sebagai lembaga yang melakukan pelayanan public.[12]

C.  PEMBAHASAN
Perjalanan politik masyarakat dan bangsa Indonesia menunjukkan kecenderungan yang sangat kuat bahwa birokrasi merupakan instrument politik yang sangat efektif yang dibangun oleh sebuah rezim guna membesarkan dan mempertahankan kekuasaan yang sudah ada.[13] Hal itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru, karena pola-pola pemanfaatan birokrasi sebagai instrument politik regim terjadi sejak masa pemerintahan colonial (Sutherland, 1990). Pada masa pemerintahan colonial kalangan “Pangreh Raja” merupakan instrument kekuasaan pemerintahan.[14]
Ketika memasuki politik masa pasca kemerdekaan, terutama pada 1950-an awal, istilah Pangreh Praja di tinggalkan dan diganti menjadi Pamong Praja, dengan harapan mereka akan menjadi aparat pemerintahan baru yang memberikan pelayanan dan pengayoman kepada masyarakatnya.[15] Sekalipun Pamong Praja merupakan sebutan untuk pegawai pemerintahan yang terdapat di lingkungan Departemen Dalam Negeri, Pegawai Negeri Sipil secara keseluruhan merupakan sebuah institusi yang menjadi tempat pertarungan kekuasaan dari partai-partai politik pada masa itu.
Konteks kehidupan politik yang demokratik pada masa pasca kemerdekaan yang diwarnai oleh system pemerintahan parlementer membawa implikasi yang sangat besar terhadap birokrasi Indonesia.[16] Yang menjadi kepala pemerintahan adalah Perdana Menteri yang merekruit para menteri dari partai-partai politik tertentu sesuai dengan bentuk koalisi pemerintahan yang terjadi pada waktu itu.[17] Maka, yang terjadi kemudian adalah para menteri yang direkruit tersebut menjadikan departemen yang dipimpinnya sebagai sumber mobilisasi dukungan bagi partai politiknya.[18] Oleh karena itu, sangat dikenal bahwa departemen tertentu merupakan sumber dukungan yang sangat kuat dari partai-partai politik tertentu. Hal itu terjadi misalnya pada Departemen Dalam Negeri dan Departemen Penerangan yang merupakan sumber dukungan yang sangat kuat bagi Partai Nasional Indonesia (PNI). Sementara Departemen Agama merupakan sumber mobilisasi dukungan yang sangat efektif bagi Masyumi dan Nahdlatul Ulama(NU).[19]
Pada periode ini, pertama kalinya terselenggara pemilihan umum yang dikenal sangat demokratis.[20] Pada awal kemerdekaan ada semacam kesepakatan bahwa lembaga pemerintahan merupakan sarana politik yang baik untuk mempersatukan bangsa.[21] Anggapan ini cukup beralasan, karena lembaga ini mempunyai birokrasi yang mampu menjangkau rakyat sampai ke desa-desa. Namun dalam perjalanan sejarah nampak gejala semakin menguatnya aspirasi pramodial dalam lembaga birokrasi pemerintah kita. Partai-partai politik mulai mengincar peluang untuk menguasai lembaga birokrasi pemerintah ini.[22]
Pemerintah di bawah kepemimpinan partai politik yang anggotanya mendominasi DPR.[23] Kedudukan DPR kuat.[24] Sebaliknya lembaga pemerintah dapat dikatakan lemah posisinya. Sementara itu, aparat pemerintah yang diharapkan netral juga sudah pandai bermain mata dengan kekuatan-kekuatan politik yang ada.[25] Banyak kebijakan atau program birokrasi pemerintah yang lebih kental nuansa kepentingan politik  dari partai yang sedang berkuasa atau berpengaruh di dalam suatu departemen.[26] Program-program yang tidak sesuai dengan garis kebijakan partai yang berkuasa dengan mudah dihapuskan oleh menteri baru yang menduduki suatu departemen. Penempatan atau perekrutan pejabat dalam strukrtur birokrasi harus diisi oleh orang dari anggota partai yang berkuasa.
Birokrasi masa pasca-kemerdekaan mengalami proses politisasi, sekaligus fragmentasi.[27] Sekalipun jumlahnya tidak terlampau besar, aparat pemerintah bukanlah sebuah organisasi yang menyatu karena sudah terkapling-kapling ke dalam partai-partai politik yang bersaing dengan sangat intensif guna memperoleh dukungan. Di dalam birokrasi terjadi tarik-menarik antar berbagai kepentingan dari partai politik yang kuat pada masa itu.[28] Tentu saja, hal itu sangat tidak sehat karena peranan ideology masing-masing partai meningkatkan proses fragmentasi yang sangat tinggi.[29] Birokrasi pada masa itu benar-benar mengalami politisasi, yaitu birokrasi pemerintah semata-mata ditempatkan sebagai instrument politik yang berkuasa atau berpengaruh.[30]
Hal itu berjalan terus sampai masa pemerintahan Demokrasi Terpimpin saat demokrasi sedikit demi sedikit mengalami proses kematiannya, dan kekuasaan bertumpu kepada Presiden Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi dan Penyambung Lidah Rakyat.[31] Arah gerak birokrasi masih mengalami polarisasi yang sangat tajam dengan mengikuti arus polarisasi politik masyarakat. Sekalipun demikian, partai-partai politik sedikit demi sedikit peranannya dalam kehidupan politik nasional semakin terbatas, kecuali Partai Komunis Indonesia (PKI).[32]
Politik pada masa demokrasi terpimpin merupakan politik tarik tambang antara tiga kekuatan politik, yaitu presiden Soekarno, Partai Komunis Indonesia, dan Angkatan Darat.[33] Tiga kekuatan partai politik yang dibungkus dalam Nasakom berusaha membagi kaplingan pengaruhnya di beberapa departemen pemerintahan (They are building a block in the government bureaucracy).[34]  Partai-partai politik memainkan peran politik yang sangat terbatas karena Parlemen dan Konstituante yang merupakan ajang pertarungan kekuatan-kekuatan politik partai-partai politik telah dibubarkan oleh Soekarno.[35] Akibatnya politisasi birokrasi tidak mengalami intensitas yang tinggi dibandingkan dengan masa sebelumnya. Sekalipun demikian, fragmentasi dalam birokrasi merupakan sebuah kenyataan.[36]


D.  KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dijabarkan sebelumnya, penulis dapat menyimpulkan bahwa pada pasca kemerdekaan atau pada era orde lama ini, birokrasi pemerintahan telah mengalami kegagalan fungsi. Maksudnya adalah bahwa birokrasi pemerintahan yang seharusnya memiliki fungsi sebagai suatu wadah atau instrument untuk mewujudkan dan meningkatkan tujuan Negara, pada era ini birokrasi justru digunakan untuk kepentingan partai politik. Konsentrasi aparat birokrasi bukan kepada fungsi dan tugas pelayanan kepada masyarakat, melainkan segenap energy dicurahkan untuk kepentingan politik individu maupun kelompok dalam birokrasi. Sehingga tampak jelas bahwa birokrasi dijadikan sebagai instrument kekuasaan semata.
DAFTAR PUSTAKA
Azizy, Qodri. 2007. Change Management dalam Reformasi Birokrasi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Budiardjo, Miriam. 2009. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Dwiyanto, Agus, dkk. 2006. Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Gaffar, Afan. 1999. Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
J.M. Papasi. 2010. Ilmu Politik: Teori dan Praktik. Yogyakarta: Graha Ilmu
Kencana S, Inu. 2011. Sistem Pemerintahan Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Setiyono, Budi. 2012. Birokrasi dalam Perspektif Politik dan Administrasi. Semarang: Nuansa Cendikia
Surbakti, Ramlan. 1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia
Thoha, Miftah. 2002. Birokrasi dan Politik di Indonesia. Yogyakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Thoha, Miftah. 2012. Birokrasi Pemerintahan dan Kekuasaan di Indonesia. Yogyakarta: Thafa Media dan Matapena Institute




[1] Thoha, Miftah. Birokrasi dan Politik di Indonesia. (Yogyakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 27
[2] Dwiyanto, Agus, dkk. Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia. (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2006), hlm. 9
[3] Ibid, Thoha, Miftah, hlm. 27
[4] Ibid
[5] Ibid, hlm. 16
[6] Budiardjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 2009), hlm. 43
[7] Budiardjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 2009), hlm. 43
[8] Surbakti, Ramlan. Memahami Ilmu Politik. (Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia, 1992), hlm. 6
[9] J.M. Papasi. Ilmu Politik: Teori dan Praktik. (Yogyakarta: Graha Ilmu. 2010), hlm 24
[10] Azizy, Qodri. Change Management dalam Reformasi Birokrasi. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 2007), hlm 14
[11] Setiyono, Budi. Birokrasi dalam Perspektif Politik dan Administrasi. (Semarang: Nuansa Cendikia, 2012), hlm 66
[12] Ibid, hlm 74
[13] Gaffar, Afan. Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1999), hlm 230
[14] Ibid
[15] Ibid, hlm 231
[16] Gaffar, Afan. Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1999), hlm 230
[17] Ibid, hlm 231
[18] Ibid, hlm 232
[19] Ibid
[20] Thoha, Miftah. Birokrasi dan Politik di Indonesia.  (Yogyakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 136
[21] Ibid, Thoha, Miftah, hlm. 136
[22] Ibid
[23] Ibid, hlm. 136-137
[24] Ibid, hlm. 137
[25] Ibid
[26] Dwiyanto, Agus, dkk. Reformasi Birokrasi Publik di Indonesia. (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2006), hlm. 32
[27] Ibid, Gaffar, Afan. hlm 232
[28] Ibid, Dwiyanto, Agus, dkk, hlm. 32
[29] Ibid, Gaffar, Afan.  hlm 232
[30] Ibid, Dwiyanto, Agus, dkk. hlm. 32
[31] Gaffar, Afan. Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,1999), hlm 232
[32] Ibid
[33] Ibid
[34] Thoha, Miftah. Birokrasi dan Politik di Indonesia.  (Yogyakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 137
[35] Ibid, Gaffar, Afan. hlm 232-233
[36] Ibid, hlm 233

0 comments:

Posting Komentar