21 Juli 2016

TEORI KONFLIK




Konflik adalah aspek instrinsik dan tidak mungkin dihindarkan dalam perubahan sosial. Konflik adalah sebuah ekspresi heterogenitas kepentingan, nilai, dan keyakinan yang muncul sebagai formasi baru yang ditimbulkan oleh perubahan sosial yang muncul bertentangan dengan hambatan yang diwariskan. Namun cara kita menangani konflik adalah persoalan kebiasaan dan pilihan yaitu mungkin mengubah respon kebiasaan dan melakukan penentuan pilihan-pilihan tepat.[1]

Setiap komunitas memiliki struktur sosial yaitu jalinan hubungan antar individu atau kelompok sosial dalam masyarakat sesuai status dan peranan yang dimilikinya. Bentuk struktur sosial tersebut dapat berupa proses konflik dan integrasi dalam masyarakat. Konflik dan integrasi merupakan sebuah pasangan yang melekat dalam kehidupan masyarakat (Simmel dalam Saifuddin, 1986). Jadi walaupun konflik merupakan bentuk kontradiktif dari integrasi, namun tidak selamanya kedua hal tersebut harus dipertentangkan. Dalam kehidupan nyata integrasi bisa saja hidup bersebelahan dengan konflik, bahkan melalui konflik keseimbangan hubungan sebenarnya dapat ditata kembali (Usman, 1996: 80). Karena itu mengkaji konflik pasti berhubungan dengan integrasi.[2]
Secara umum menurut teori “conflict episode” proses konflik mulai dari awal hingga akhir dapat terdiri dari lima episode (Pondy dalam Miall et.al, 2002) yaitu: (1) laten conflict, tahap munculnya faktor-faktor dalam situasi yang dapat menjadi kekuatan potensial munculnya kasus konflik; (2) perceived conflict, tahap ketika salah satu pihak memandang pihak lain menghambat atau mengancam kepentingannya; (3) felt conflict, tahap ketika salah satu atau kedua belah pihak merasakan atau mengenali keberadaan konflik, bukan sekedar pandangan atau anggapan; (4) manifest conflict, tahap ketika kedua belah pihak melakukan konflik terbuka yang mengundang reaksi pihak lain; (5) aftermath conflict, tahap sesudah konflik diatasi, namun masih terdapat sisa-sisa konflik sehingga menjadi potensi konflik lanjutan.[3]
Ada beberapa hal yang menjadi sumber konflik menurut Soeripto (dalam Nadia Marshita, 2010:21) yakni:
1.    Kebutuhan (needs), yaitu edisi terhadap kesejahteraan dan keberadaan manusia.
2.    Persepsi (preseption), yaitu cara pandang terhadap suatu hal atau masalah tertentu.
3.    Kekuasaan (power), yaitu kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar sesuai dengan hendaknya.
4.    Nilai (value), yaitu kepercayaan atau prinsip dasar yang dipertimbangkan sebagai sesuatu hal yang penting.
5.    Perasaan atau emosi (feeling and emotion), yaitu respon yang timbul dari individu atau kelompok dalam menghadapi konflik.

Berikut ini merupakan beberapa jenis konflik sebagai salah satu gejala sosial masyarakat Indonesia yang diantaranya adalah sebagai berikut:[4]
1.    Konflik Gender
Di dalam struktur masyarakat tradisional istilah gender tidak memunculkan persoalan yang berpangkal tolak pada status dan peranan. Artinya status antara laki-laki dan perempuan dimana hak-hak lebih didominasi oleh kaum laki-laki dan perempuan selalu diposisikan dalan kelompok inferior diterimanya sebagai adikodrati. Akan tetapi di dalam struktur masyarakat modern, istilah gender menjadi permasalahan yang cukup penting, terutama isu-isu emansipasi yang diluncurkan oleh kaum perempuan menjadi pembahasan yang penting di dalam kehidupan sosial.
2.    Konflik Konflik Rasial dan Antarsuku
Istilah ras sering kali diidentikkan dengan perbedaan warna kulit manusia, diantaranya ada sebagian kelompok manusia yang berkulit putih, sawo matang, dan hitam. Pada masa lalu, perasaan superior kaum kulit putih, dimana segala bentuk eksploitasi terhadap kaum kulit hitam oleh kaum kulit putih telah memicu konflik rasial. Selain konflik rasial adapula konflik antar-etnis yang berdampak pada lenyapnya suatu negara atau pun daerah karena konflik ini mengarah pada gerakan separatis daerah.
3.    Konflik Antar-Umat Agama
Secara sosiologis, agama selain dapat dijadikan sebagai alat perekat solidaritas sosial, tetapi juga bisa menjadi pemicu disintegrasi sosial. Perbedaan keyakinan penganut agama yang meyakini kebenaran ajaran agamanya, dan menganggap keyakinan agama lain sesat telah memicu konflik antar-penganut agama. Bahkan di dalam agama itu sendiri juga terdapat segmentasi sektarian yang memiliki perbedaan mulai dari perbedaan dari kulit luar ajaran agama ini hingga perbedaan secara substansial.
4.    Konflik Antargolongan
Diferensiasi masyarakat terdiferensiasi dalam berbagai golongan yang sangat rawan dengan pergolakan sosial. Konflik antargolongan diantaranya dipicu oleh satu golongan tertentu  memaksakan kehendaknya kepada kelompok lain untuk melakukan perbuatan yang dikehendaki oleh golongan tersebut. Adapun di pihak lain, golongan merasa terampas kebebasannya hingga melakukan perlawanan yang tidak pernah tercapai kesepakatan diantara golongan tersebut.
5.    Konflik Kepentingan
Di dalam dunia poitik: “tiada lawan yang abadi dan tiada pula kawan abadi, kecuali kepentingan abadi”. Dengan demikian, konflik kepentingan identik dengan konflik politik. Realitas politik selalu diwarnai oleh dua kelompok yang memiliki kepentingan yang saling berbenturan. Benturan kepentingan tersebut dipicu oleh gejala satu pihak ingin merebut kekuasaan dan kewenangan di dsalam masyarakat, di pihak lain terdapat kelompok yang berusaha mempertahankan dan mengembangkan kekuasaan dan kewenangan yang sudah ada di tangan mereka.
6.    Konflik Antarpribadi
Konflik antarindividu adalah konflik sosial yang melibatkan individu di dalam konflik tersebut. Konflik ini terjadi karena adanya perbedaan atau pertentangan atau juga ketidakcocokan antara individu satu dan individu lain. Masing-masing individu bersikukuh mempertahankan tujuannya atau kepentingannya masing-masing. Ada sedikit persamaan antara konflik antarpribadi dngan konflik kepentingan, akan tetapi apapun alasannya kedua macam konflik ini dapat dibedakan, sebab konflik kepentingan bisa jadi  konflik antarkepentingan kelompok.
7.    Konflik Antarkelas Sosial
Konflik yang terjadi antarkelas sosial biasanya berupa konflik yang bersifat vertikal; yaitu konflik antarkelas sosial atas dan kelas sosial bawah. Konflik ini terjadi karena kepentingan yang berbeda antara dua golongan  atau kelas sosial yang ada. Sekilas, konflik antarkelas sosial biasanya lebih ditekankan pada konflik antar buruh dan majikan di dalam struktur masyarakat industri, dan konflik antara patron dan klien dalam struktur masyarakat feodal.
8.    Konflik Antarnegara/Bangsa
Konflik antarnegara adalah konflik yang terjadi antara dua negara atau lebih. Mereka memiliki perbedaan tujuan negara dan berupaya memaksakan kehendak negaranya kepada negara lain. Di dalam struktur masyarakat dunia yang semakin modern konflik antarnegara atau antar bangsa lebih banyak dipicu oleh faktor ideologi, ekonomi, dan perbatasan negara.
Selanjutnya, pada dasarnya adapun akar permasalahan dari timbulnya konflik diantaranya adalah:[5]
1.    Perbedaan antar-individu; diantaranaya perbedaan pendapat, tujuan, keinginan, pendirian tentang objek yang dipertentangkan.
2.    Benturan antar-kepentingan baik secara ekonomi maupun politik. Benturan kepentingan ekonomi dipicu oleh makin bebasnya berusaha, sehingga banyak diantara kelompok pengusaha saling memperebutkan wilayah pasar dan perluasan wilayah untuk mengembangkan usahanya.
3.    Perubahan sosial, yang terjadi secara mendadak biasanya menimbulkan kerawanan konflik.
4.    Perbedaan kebudayaan, yang mengakibatkan adanya perasaan in group dan out group yang biasanya diikuti oleh sifat etnosentrisme kelompok, yaitu sikap yang ditunjukkan kepada kelompok lain bahwa kelompoknya adalah kelompok paling baik, ideal, dan beradab diantara kelompok lain.


[1] Hugh Mial dan Oliver R.T.W. 2002. Resolusi Damai Konflik Kontemporer. Jakarta: Raja Grafindo Persada, hlm 7-8
[2] Nawari Ismail dan Muhaimin AG. 2011. Konflik Umat Beragama dan Budaya Lokal. Bandung: CV. Lubuk Agung, hlm 4-5
[3] Ibid, hlm 5
[4] Elly M. Setiadi dan Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Jakarta: Kencana, hlm 349-357
[5] Ibid, hlm 361-362

0 comments:

Posting Komentar