Konflik adalah aspek instrinsik dan tidak mungkin
dihindarkan dalam perubahan sosial. Konflik adalah sebuah ekspresi
heterogenitas kepentingan, nilai, dan keyakinan yang muncul sebagai formasi
baru yang ditimbulkan oleh perubahan sosial yang muncul bertentangan dengan
hambatan yang diwariskan. Namun cara kita menangani konflik adalah persoalan
kebiasaan dan pilihan yaitu mungkin mengubah respon kebiasaan dan melakukan penentuan
pilihan-pilihan tepat.[1]
Setiap komunitas memiliki struktur sosial yaitu jalinan
hubungan antar individu atau kelompok sosial dalam masyarakat sesuai status dan
peranan yang dimilikinya. Bentuk struktur sosial tersebut dapat berupa proses
konflik dan integrasi dalam masyarakat. Konflik dan integrasi merupakan sebuah
pasangan yang melekat dalam kehidupan masyarakat (Simmel dalam Saifuddin,
1986). Jadi walaupun konflik merupakan bentuk kontradiktif dari integrasi,
namun tidak selamanya kedua hal tersebut harus dipertentangkan. Dalam kehidupan
nyata integrasi bisa saja hidup bersebelahan dengan konflik, bahkan melalui
konflik keseimbangan hubungan sebenarnya dapat ditata kembali (Usman, 1996:
80). Karena itu mengkaji konflik pasti berhubungan dengan integrasi.[2]
Secara umum menurut teori “conflict episode” proses konflik mulai dari awal hingga akhir
dapat terdiri dari lima episode (Pondy dalam Miall et.al, 2002) yaitu: (1) laten
conflict, tahap munculnya faktor-faktor dalam situasi yang dapat menjadi
kekuatan potensial munculnya kasus konflik; (2) perceived conflict, tahap ketika salah satu pihak memandang pihak
lain menghambat atau mengancam kepentingannya; (3) felt conflict, tahap ketika salah satu atau kedua belah pihak
merasakan atau mengenali keberadaan konflik, bukan sekedar pandangan atau
anggapan; (4) manifest conflict,
tahap ketika kedua belah pihak melakukan konflik terbuka yang mengundang reaksi
pihak lain; (5) aftermath conflict,
tahap sesudah konflik diatasi, namun masih terdapat sisa-sisa konflik sehingga
menjadi potensi konflik lanjutan.[3]
Ada beberapa hal yang menjadi sumber konflik menurut
Soeripto (dalam Nadia Marshita, 2010:21) yakni:
1.
Kebutuhan (needs), yaitu edisi terhadap
kesejahteraan dan keberadaan manusia.
2.
Persepsi (preseption), yaitu cara pandang terhadap
suatu hal atau masalah tertentu.
3.
Kekuasaan (power), yaitu kemampuan seseorang untuk
mempengaruhi orang lain agar sesuai dengan hendaknya.
4.
Nilai (value), yaitu kepercayaan atau prinsip
dasar yang dipertimbangkan sebagai sesuatu hal yang penting.
5.
Perasaan atau emosi
(feeling and emotion), yaitu respon
yang timbul dari individu atau kelompok dalam menghadapi konflik.
Berikut ini merupakan beberapa jenis konflik sebagai
salah satu gejala sosial masyarakat Indonesia yang diantaranya adalah sebagai
berikut:[4]
1.
Konflik
Gender
Di dalam struktur masyarakat tradisional istilah gender
tidak memunculkan persoalan yang berpangkal tolak pada status dan peranan.
Artinya status antara laki-laki dan perempuan dimana hak-hak lebih didominasi
oleh kaum laki-laki dan perempuan selalu diposisikan dalan kelompok inferior
diterimanya sebagai adikodrati. Akan tetapi di dalam struktur masyarakat
modern, istilah gender menjadi permasalahan yang cukup penting, terutama
isu-isu emansipasi yang diluncurkan oleh kaum perempuan menjadi pembahasan yang
penting di dalam kehidupan sosial.
2.
Konflik
Konflik Rasial dan Antarsuku
Istilah ras sering kali diidentikkan dengan perbedaan
warna kulit manusia, diantaranya ada sebagian kelompok manusia yang berkulit
putih, sawo matang, dan hitam. Pada masa lalu, perasaan superior kaum kulit
putih, dimana segala bentuk eksploitasi terhadap kaum kulit hitam oleh kaum
kulit putih telah memicu konflik rasial. Selain konflik rasial adapula konflik
antar-etnis yang berdampak pada lenyapnya suatu negara atau pun daerah karena
konflik ini mengarah pada gerakan separatis daerah.
3.
Konflik
Antar-Umat Agama
Secara sosiologis, agama selain dapat dijadikan sebagai
alat perekat solidaritas sosial, tetapi juga bisa menjadi pemicu disintegrasi
sosial. Perbedaan keyakinan penganut agama yang meyakini kebenaran ajaran
agamanya, dan menganggap keyakinan agama lain sesat telah memicu konflik
antar-penganut agama. Bahkan di dalam agama itu sendiri juga terdapat
segmentasi sektarian yang memiliki perbedaan mulai dari perbedaan dari kulit
luar ajaran agama ini hingga perbedaan secara substansial.
4.
Konflik
Antargolongan
Diferensiasi masyarakat terdiferensiasi dalam berbagai
golongan yang sangat rawan dengan pergolakan sosial. Konflik antargolongan
diantaranya dipicu oleh satu golongan tertentu
memaksakan kehendaknya kepada kelompok lain untuk melakukan perbuatan
yang dikehendaki oleh golongan tersebut. Adapun di pihak lain, golongan merasa
terampas kebebasannya hingga melakukan perlawanan yang tidak pernah tercapai kesepakatan
diantara golongan tersebut.
5.
Konflik
Kepentingan
Di dalam dunia poitik: “tiada lawan yang abadi dan tiada pula kawan abadi, kecuali kepentingan
abadi”. Dengan demikian, konflik kepentingan identik dengan konflik
politik. Realitas politik selalu diwarnai oleh dua kelompok yang memiliki
kepentingan yang saling berbenturan. Benturan kepentingan tersebut dipicu oleh
gejala satu pihak ingin merebut kekuasaan dan kewenangan di dsalam masyarakat,
di pihak lain terdapat kelompok yang berusaha mempertahankan dan mengembangkan
kekuasaan dan kewenangan yang sudah ada di tangan mereka.
6.
Konflik
Antarpribadi
Konflik antarindividu adalah konflik sosial yang
melibatkan individu di dalam konflik tersebut. Konflik ini terjadi karena
adanya perbedaan atau pertentangan atau juga ketidakcocokan antara individu
satu dan individu lain. Masing-masing individu bersikukuh mempertahankan
tujuannya atau kepentingannya masing-masing. Ada sedikit persamaan antara
konflik antarpribadi dngan konflik kepentingan, akan tetapi apapun alasannya
kedua macam konflik ini dapat dibedakan, sebab konflik kepentingan bisa
jadi konflik antarkepentingan kelompok.
7.
Konflik
Antarkelas Sosial
Konflik yang terjadi antarkelas sosial biasanya berupa
konflik yang bersifat vertikal; yaitu konflik antarkelas sosial atas dan kelas
sosial bawah. Konflik ini terjadi karena kepentingan yang berbeda antara dua
golongan atau kelas sosial yang ada.
Sekilas, konflik antarkelas sosial biasanya lebih ditekankan pada konflik antar
buruh dan majikan di dalam struktur masyarakat industri, dan konflik antara
patron dan klien dalam struktur masyarakat feodal.
8.
Konflik
Antarnegara/Bangsa
Konflik antarnegara adalah konflik yang terjadi antara
dua negara atau lebih. Mereka memiliki perbedaan tujuan negara dan berupaya memaksakan
kehendak negaranya kepada negara lain. Di dalam struktur masyarakat dunia yang
semakin modern konflik antarnegara atau antar bangsa lebih banyak dipicu oleh
faktor ideologi, ekonomi, dan perbatasan negara.
Selanjutnya, pada dasarnya adapun akar permasalahan dari
timbulnya konflik diantaranya adalah:[5]
1.
Perbedaan antar-individu; diantaranaya perbedaan pendapat, tujuan, keinginan, pendirian tentang
objek yang dipertentangkan.
2.
Benturan antar-kepentingan baik secara ekonomi maupun
politik. Benturan kepentingan ekonomi dipicu oleh makin bebasnya
berusaha, sehingga banyak diantara kelompok pengusaha saling memperebutkan
wilayah pasar dan perluasan wilayah untuk mengembangkan usahanya.
3.
Perubahan sosial, yang terjadi secara mendadak biasanya menimbulkan kerawanan konflik.
4.
Perbedaan kebudayaan, yang mengakibatkan adanya perasaan in group dan out group yang biasanya
diikuti oleh sifat etnosentrisme kelompok, yaitu sikap yang ditunjukkan kepada
kelompok lain bahwa kelompoknya adalah kelompok paling baik, ideal, dan beradab
diantara kelompok lain.
[1] Hugh Mial
dan Oliver R.T.W. 2002. Resolusi Damai Konflik Kontemporer. Jakarta: Raja
Grafindo Persada, hlm 7-8
[2] Nawari
Ismail dan Muhaimin AG. 2011. Konflik Umat Beragama dan Budaya Lokal. Bandung:
CV. Lubuk Agung, hlm 4-5
[4] Elly M.
Setiadi dan Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala
Permasalahan Sosial Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Jakarta: Kencana, hlm
349-357







0 comments:
Posting Komentar