25 Juli 2016

TEORI ORGANISASI




Organisasi yang didirikan pada dasarnya ingin mencapai tujuan dan sasaran yang telah disepakati bersama dengan lebih efisien dan efektif dengan tindakan yang dilakukan bersama-sama dengan penuh rasa tanggung jawab. Hal ini dapat dilakukan apabilapara manajer dan anggotanya mengerti dan memahami dengan benar tentang organisasi. Karena, organisasi tersebut dapat dipandang sebagai wadah, sebagai proses, sebagai perilaku dan sebagai alat untuk mencapai tujuan organisasi. Namun, pendefinisian organisasi yang banyak dilakukan oleh para ahli sekurang-kurangnya mempunyai unsur-unsur adanya manusia atau orang-orang yang bekerjasama, adanya kerjasama itu sendiri, dan adanya tujuan organisasi yang telah disepakati.[1]
Menurut John Pfiffner dan S. Owen Lane, organisasi adalah proses penggabungan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh orang-orang, atau kelompok-kelompok dengan kekuasaan yang diperlukan untuk pelaksaan itu, sehingga kewajiban yang dilaksanakan demikian itu memberikan saluran-saluran yang terbaik bagi penyelenggara usaha yang efisien, teratur, positif, dan dikoordinasikan.[2] Lebih lanjut Cushway dan Lodge menyatakan bahwa setiap organisasi bersifat dinamis dan akan dipengaruhi sedikit banyak oleh perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar. Umpama, perubahan ekonomi akan mempengaruhi kinerja bisnis dan perubahan di dalam perundang-undangan akan mempunyai dampak pada cara organisasi melakukan kegiatannya. Lebih lanjut Cushway dan Lodge menyatakan bahwa setiap organisasi bersifat dinamis dan akan dipengaruhi sedikit banyak oleh perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar. Umpama, perubahan ekonomi akan mempengaruhi kinerja bisnis dan perubahan di dalam perundang-undangan akan mempunyai dampak pada cara organisasi melakukan kegiatannya.
Oleh karena itu setiap organisasi baik publik maupun swasta selalu memperhatikan dan menyesuaikan organisasinya dengan perubahan-perubahan lingkungan. Analisis terhadap organisasi menurut Cushway harus dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan berbagai macam unsur baik unsur struktur, proses/ mekanisme maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya. Artinya, perhatian jangan hanya dipusatkan pada struktur organisasi saja, akan tetapi juga pada kepentingan orang-orang yang ada di dalam organisasi. Struktur yang baik tidak akan meningkatkakn efisiensi dan efektivitas jika para pegawainya tidak dimotivasi. Demikian juga para pegawai yang memiliki motivasi tinggi tidak akan memberi hasil yang baik jika mereka kecewa terhadap struktur, sistem atau manajemen organisasinya.[3]
Gitosudarmo mendefinisikan organisasi adalah suatu sistem yang terdiri dari pola aktivitas kerjasama yang dilakukan secara teratur dan berulang- ulang oleh sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan.[4] Prof. Dr. Mr. S. Pradjudi Atmosudiro menyatakan bahwa organisasi adalah struktur tata pembagian kerja dan struktur hubungan kerja atau sekelompok orang memegang posisi yang bekerja sama tertentu untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu.[5]
G.R Terry menyatakan bahwa organisasi berasal dari perkataan “organisme” yaitu struktur dengan bagian- bagian yang demikian diintegrasi hubungan mereka satu sama lain dipengaruhi oleh hubungan mereka dengan keseluruhan. Jadi organisasi terdiri dari dua bagian pokok yaitu bagian-bagian dan hubungan-hubungan.[6]
Etzioni (1982) memuat garis besar pembahasan dalam organisasi modern dari mulai definisi, ciri-ciri, pendekatan teori, struktur, dan legitimasi birokrasi, wewenang administratif, dan hubungan antara organisasi dan lingkungan sosial. Menurut Etzioni ciri-ciri organisasi, diantaranya adalah:[7]
1.    Adanya pembagian dalam pekerjaan, kekuasaan, dan tanggungjawab komunikasi merupakan bentuk-bentukmpembagian yang tidak dipolakan begitu saja atau disusun menurut cara-cara tradisional, melainkan sengaja direncanakan untuk dapat lebih meningkatkan usaha mewujudkan tujuan tertentu;
2.    Adanya satu atau beberapa pusat kekuasaan berfungsi mengawasi pengendalian usaha-usaha organisasi serta mengarahkan organisasi mencapai tujuannya, pusat kekuasaan secara kontinu mengkaji sejauh mana hasil yang telah dicapai organisasi, dan apabila diperlukan menyusun pola-pola baru guna meningkatkan efisiensi;
3.    Penggantian tenaga dimana tenaga yang dianggap tidak bekerja sebagaimana diharapkan, dapat diganti oleh tenaga lain dan organisasi dapat mengkombinasikan anggotanya melalui proses pengalihan maupun promosi (Etzioni, 1982:4).
Katz dan Kahn (dalam Steers, 1985:135) mengharuskan organisasi untuk dapat memenuhi tiga persyaratan perilaku penting agar mampu memastikan keberhasilan akhir dari para pekerja, yaitu:[8]
a)    Organisasi harus mampu membina dan mempertahankan suatu armada kerja yang mantap terdiri dari personel yang terampil;
b)   Organisasi harus dapat menikmati prestasi peranan yang dapat diandalkan dari para personelnya, dalam hal ini setiap personel bukan saja dituntut untuk bersedia berkarya, tetapi juga harus melakukan tugas khusus yang menjadi tanggung jawab utamanya;
c)    Para personel harus mengusahakan bertingkah laku spontan dan inovatif, dengan demikian para personel jangan hanya bertingkah laku pasif saja.
a.    Struktur Organisasi
Menurut Indra Iman struktur organisasi merupakan sebuah sistem hubungan yang ada antara para pemegang (anggota) organisasi. Secara umum, struktur organisasi mengambil bentuk hierarki dari mana wewenang dan tanggung jawab dibedakan sepanjang dimensi vertikal seperti departemen, divisi sepanjang dimensi horizontal setiap derajat yang berbeda dari setiap wewenang setiap dimensi horizontal dibedakan menurut spesialisasi dan mana para karyawan dikelompokkan ke dalam unit organisasi berasarkan keahlian dan spesialisasi yang sama.[9]
Elemen dari terbentuknya sebuah struktur organisasi salah satunya adalah pembagian kerja. Dalam hal ini perencanaan berbagai kegiatan atau pekerjaan untuk pencapaian tujuan tentunya telah ditentukan. Keseluruhan pekerjaan dan kegiatan yang telah direncanakan tentunya perlu disederhanakan guna mempermudah bagaimana mengimplementasikannya. Upaya untuk menyederhanakan dari keseluruhan kegiatan dan pekerjaan yang mungkin saja bersifat kompleks menjadi lebih sederhana dan spesifik dimana setiap orang akan ditempatkan dan ditugaskan untuk setiap kegiatan yang sederhana dan spesifik. Pembagian kerja dapat dihubungkan dengan satuan organisasi dan dapat dihubungkan dengan pejabat. Saat ini penggunaan pembagian kerja lebih banyak digunakan karena pada dasarnya yang dibagi-bagi adalah pekerjaannya, bukan orang-orangnya. Pembagian kerja dapat diartikan dua macam:[10]
1.    Pembagian kerja adalah rincian serta pengelompokan aktivitas-aktivitas yang semacam atau erat hubungannya satu sama lain untuk dilakukan oleh satuan organisasi tertentu. Misalnya Sekretariat Jendral, Biro Perencanaan, Biro Kepegawaian, Biro Keuangan, Inspektorat Daerah, Badan, Balai yang semua ini mempunyai rincian aktivitas.
2.    Pembagian kerja adalah rincian serta pengelompokan tugas-tugas yang semacam atau erat hubungannya satu sama lain untuk dilakukan oleh seorang pejabat tertentu. Misalnya Sekretariat, Bendahara, Kepala Seksi, Ketua Panitia, Juru Bayar, Direktur, Menteri, Presiden yang semua ini memiliki rincian tugas.
Di dalam suatu struktur organisasi juga terdapat prinsip-prinsip organisasi, menurut Winardi (2004:189-190), prinsip-prinsip organisasi tersebut adalah sebagai berikut:[11]
1.    Pembagian Kerja dan Spesialisasi. Spesialisai dapat dipandang dua macam sudut, yaitu: Pertama, dengan jalan membagi sesuatu pekerjaaan dalam bagian yang kecil. Kedua, dengan memusatkan usaha-usaha individual pada aktivitas-aktivitas yang memanfaatkan bakatnya semaksimum mungkin.
2.    Garis-garis Otoritas yang Jelas. Aktivitas-aktivitas perusahaan harus dibagi dalam segmen-segmen yang digariskan dengan jelas, sehingga masing-masing ditempatkan dalam hubungan yang berimbang satu sama lain.
3.    Penetapan Tanggung jawab secara Jelas.Setiap orang harus mengerti dengan baik tugas-tugas untuk apa ia bertanggung jawab.
4.    Otoritas yang sesuai dengan tanggung jawab. Penetapan tanggung jwawab harus diikuti dengan otoritas yang cukup untuk melaksanakannya. Otoritas untuk membuat keputusan harus diberikan hingga bidang di mana problem timbul dan dimana keputusan-keputusan akan diterapkan.
5.    Kesatuan penugasan. Fungsi-fungsi yang serupa sebaiknya berhubungan erat di dalam struktur yang ada. Fungsi-fungsi yang berhubungan dengan masig-masing posisi yang harus konsisten dan harus adanya syarat-syarat yang cukup sama dengan skill.
6.    Rentang pengawasan. Terdapat adanya pembatasan terhadap jumlah bawahan yang dapat disupervisi oleh seorang atasan.
7.    Komunikasi Semua unit dan individu-individu di dalam organisasi yang bersangkutan yang tangung jawab mereka mengharuskan adanya kontak dengan pihak lain harus dapat melaksanakannya tanpa pembatasan-pembatasan dari struktur formal.
8.    Komite-komite. Suatus sistem komite yang dibentuk dengan baik dapat merupakan alat administrasi yang berharga.
Berdasarkan tipe-tipe dan wewenang, maka bentuk struktur organisasi dapat dibedakan sebagai berikut:
a)    Organisasi Lini (Lini Organization)
b)   Organisasi Lini dan Staff (Line and Staff Organization)
c)    Organisasi Fungsional (Functional Organization)
d)   Organisasi Lini, Staff dan Fungsional (Line, Staff, and Functional Organization)
e)    Organisasi Komite (Committee Organization).




[1] Hendra Dermawan Siregar. 2008. Kinerja Pemerintah Kelurahan dalam Program Pemberdayaan Kelurahan (Studi pada Kelurahan Polonia Kecamatan Medan Polonia). Tesis Sekolah Pascasarjana, Universitas Sumatera Utara, Medan

[2] Supardi & Syaiful Anwar. Dasar-dasar Perilaku Organisasi. (Jogjakarta: UII Press Jogjakarta 2002). hlm 4 

[3] Bambang Istianto. Manajemen Pmerintahan dalam Perspektif Pelayanan Publik. (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2009). hal 64-65 

[4] Ardana, Komang dkk. Perilaku Keorganisasian. (Denpasar: Graha Ilmu2008). Hal,1 

[5] Hasibuan, Malayu S.P. Manajemen Sumber Daya Manusia. (Jakarta: CV. Haji Masagung. 2005). Hal 121 

[6] Ibid, Supardi & Syaiful Anwar.

[7] Melinda Ratna Agustina. 2013. Evaluasi terhadap Struktur Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah pada Pemerintah Kabupaten Kotabaru. Jurnal Program Studi Magister Ilmu Pemerinatahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat

[8] Erlina Hasan. Komunikasi Pemerintahan. (Bandung: PT. Refika Aditama, 2005), hlm7-8

[9] Indra Iman & Siswandi. Aplikasi Manajemen Perusahaan Analisis Kasus dan Pemecahannya. (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2007). hal 53 

[10] Sutarto. Dasar-Dasar Organisasi. (Yogyakarta: Gadjah Mada university Press, 1995). hal 104 


[11] Winardi. Manajemen Perilaku Organisasi. (Bandung: Kencana 2004). Hal 189-190 

0 comments:

Posting Komentar